Kamis, 18 Agustus 2011

Introspeksi yuk....Semangat...

Adam diajari nama - nama benda, itulah awal mula pendidikan kecendikiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu Allah kepada Muhammad, yakni iqra'.
Dari Idris kita memperoleh rekayasa teknologi yang sangat dini.
Dari Nuh kita mendapati keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.
Dari Hud membangaun kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.
Pada Ibrahim terdapat rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detail. Pada Ismail pengorbanan dan keikhlasan. Ayyub kita mengetahui ketahanan dan kesabaran. Dawud kita mengenal Tangis, perjuangan dan keberanian.
Dari Sulaiman ke-Waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan. Pada Musa kita peroleh keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik tapi juga kedunguan dalam kepandaian. Dari Zakaria kita dianjurkan berdzkir. Dari Isa kita diajarkan kelembutan cinta kasih, getaran hubungan alam.
Dan Muhammad, Kematangan kesempurnaan ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.
Terkadang atau bahkan amat sering, kita adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Disaat lain kita adalah Ayyub --tetapi-- yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit.
Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya, sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kita yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah - sawah Fir'aun atau membelah kayu - kayu untuk pembangunan istana bagi diktator itu. Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kita tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kita.
Sehingga sebagian dari kita lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kita, dan sampai hari ini kita masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan. Kita belajar pidato layaknya Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kita seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kita hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.
Yang kita bicarakan bukanlah pernyataan - pernyataan penuh rasa sedih dan putus asa, melainkan cara terbaik untuk menjadi kuat adalah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju adalah memahami kemunduran. Sebodoh - bodoh kita, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa pun harus perlahan -lahan kita rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kita lemparkan ke halaman istana Fir'aun dan menelan semua ular - ular sihir yang melata - lata. Kita juga belajar kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem layaknya Musa kita pun belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidir. Dan berdzkir, bagai Zakaria kita perpeka kehidupan kita agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah.
Terkadang kita khilaf hanya mengambil salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kita harus mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur - unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta manjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berujung. [sumber : sebuah cerpen karya Emha Ainun Najib]
Selengkapnya...

Senin, 15 Agustus 2011

Bersyukur...Melihat Dunia dari Sisi yang Berbeda dari Kaca Mata Sang Tuna Netra

Sebuah kisah dua orang pasien pria yang sdang dirawat di sebuah ruangan rumah sakit. Salah satunya menderita penyakit yang mengharuskannya setiap sore untuk duduk diam di dekat jendela disamping tempat tidurnya untuk mengosongkan cairan dari paru - paru dan untuk menormalkan jantungnya karena denyutnya sangat lemah. 
Sedangkan pria yang lain harus berbaring. Pria ini sering uring-uringan, bahkan tak jarang membentak anggota keluarga yang menjaga dan perawat yang memeriksanya. Tak jarang pula pria yang satu ini berteriak di malam hari (mungkin karena kesakitan) sehingga mengganggu pasien yang lainnya.

Suatu hari di sore yang cerah, seperti biasa pria yang berada dekat jendela ini duduk sambil melihat keluar jendela. Sambil tersenyum dan dengan wajah gembira dia menggumam, "Senang sekali ya seandainya aku bisa berjalan-jalan setiap sore di taman itu, tentunya aku tidak ingin kembali di tempat ini lagi." gumamnya sambil tetap terlihat tersenyum.

Melihat hal itu pria satunya yang berada di sebelah tempat tidurnya berkata dengan rasa penasaran, "Apa yang kau lihat di luar sana, kawan?" "Sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."

Jelas pria yang duduk Setiap sore ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria yang hanya bisa berbaring merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana. Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan begitu detil sehingga membuat pria yang berbaring membayangkan semua keindahan pemandangan itu.

Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya pun semakin bertambah. Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.

Meski pria yang kedua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, seorang perawat mendapati pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.

Pria yang kedua merasa begitu kehilangan seorang teman yang mengisi hari-harinya. Begitu penasarannya dengan apa yang diceritakan oleh sang kawan hingga ia meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya.

Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar. Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu.

Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah . . . Tembok Kosong!!! Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu.

Dari perawat itulah dia menyadari bahwa rekannya yang sudah meninggal ternyata seorang Tuna Netra yang terserang penyakit parah dan kronis...
sumber : http://www.blog-santai.com/2011/07/pelajaran-berharga-dari-seorang-tuna.html
Selengkapnya...

Rabu, 03 Agustus 2011

Insomnia??? Cobalah Sayur Kangkung....

Kita pasti kenal dengan sayur yang satu ini. Banyak yang percaya bahwa memakan kangkung bisa menyebabkan kantuk. Ada juga yang bilang zat besi pada kangkung terlalu berlebihan sehingga membuat kangkung menyerap banyak oksigen dalam tubuh, membuat kita malas, dll. Namun, hal ini belum ada pembuktian secara ilmiah oleh para ahli. Akan tetapi, ada kejelasan bahwa sayur kangkung memiliki zat kimia yang bersifat sedatif yaitu zat yang bisa menenangkan. Mungkin itu yang menyebabkan sayur kangkung dikatkan dengan mitos "ngantuk" karena ada zat sedatif ini, karen bila seseorang banyak mengonsumsi zat sedatif ini akan merasa tenang bahkan terlelap. Sehingga bahan zat sedatif ini dapat dicoba bagi yang terserang insomnia.
Selain itu sayur kangkung baik untuk mata dengan Vitamin A yang dikandungnya, juga vitamin B untuk membantu metabolisme tubuh, Vitamin C nya untuk kekebalan dan daya tahan tubuh serta Vitamin K yang sangat penting untuk proses pembekuan darah.
Kangkung adalah salah satu sayuran yang mengandung banyak zat besi, mineral ini sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama sel darah merah. Karena zat besi sangat dibutuhkan dalam pembentukan Hemoglobin (zat warna merah pada darah). Sehingga sayur kangkung sangat baik untuk penderita anemia.
Sayur kangkung juga bersifat anti-racun, sehingga kangkung mampu menetralisir racun dan menghilangkannya dari dalam tubuh. Dengan seratnya yang tinggi kangkung sangat baik untuk pencernaan, sehingga menghindarkan anda dari sembelit yang merupakan gejala awal ambeien. 
Manfaat lainnya adalah untuk menghentikan mimisan, sakit kepala, Sakit gigi, melancarkan air seni, menghilangkan ketombe, atau bisa juga mengatasi gatal kulit karena eksim.
Kandungan gizi dari kangkung adalah Vitamin A, B, C dan K kemudian zat besi, kalsium, fosfor, karoten, asam amino, karbohidrat, protein dan lemak. Yuk,,,budayakan makan sayur,,wajar dan higienis...pasti dapet manfaat...^_^
Selengkapnya...