Adam diajari nama - nama benda, itulah awal mula pendidikan kecendikiaan, yang kelak direkonstruksi oleh wahyu Allah kepada Muhammad, yakni iqra'.
Dari Idris kita memperoleh rekayasa teknologi yang sangat dini.
Dari Nuh kita mendapati keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah.
Dari Hud membangaun kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi canggih.
Pada Ibrahim terdapat rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras pikiran dan pengalaman secara lebih detail. Pada Ismail pengorbanan dan keikhlasan. Ayyub kita mengetahui ketahanan dan kesabaran. Dawud kita mengenal Tangis, perjuangan dan keberanian.
Dari Sulaiman ke-Waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis dan keadilan. Pada Musa kita peroleh keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik tapi juga kedunguan dalam kepandaian. Dari Zakaria kita dianjurkan berdzkir. Dari Isa kita diajarkan kelembutan cinta kasih, getaran hubungan alam.
Dan Muhammad, Kematangan kesempurnaan ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya.
Terkadang atau bahkan amat sering, kita adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Disaat lain kita adalah Ayyub --tetapi-- yang kalah oleh sakit berkepanjangan dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit.
Sebagian kami memperoleh jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya, sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakan ke dalam sumur tanpa ada yang mengambilnya. Ada juga golongan dari kita yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawah - sawah Fir'aun atau membelah kayu - kayu untuk pembangunan istana bagi diktator itu. Mungkin itu yang menyebabkan seringkali kita tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang menggantikan ketersembelihan kita.
Sehingga sebagian dari kita lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa menelan kita, dan sampai hari ini kita masih belum selesai mendiskusikan dan menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan. Kita belajar pidato layaknya Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kita seharusnya diucapkan 15 abad yang lalu, padahal Musa-Musa kita hari ini tidaklah sanggup membelah samudera.
Yang kita bicarakan bukanlah pernyataan - pernyataan penuh rasa sedih dan putus asa, melainkan cara terbaik untuk menjadi kuat adalah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa maju adalah memahami kemunduran. Sebodoh - bodoh kita, sebenarnya telah pula berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan Jalut. Tongkat Musa pun harus perlahan -lahan kita rekayasa, agar kelak memiliki kemampuan untuk kita lemparkan ke halaman istana Fir'aun dan menelan semua ular - ular sihir yang melata - lata. Kita juga belajar kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem layaknya Musa kita pun belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidir. Dan berdzkir, bagai Zakaria kita perpeka kehidupan kita agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan kekuatan Allah.
Terkadang kita khilaf hanya mengambil salah satu watak Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kita harus mengerti bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan unsur - unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta, kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta manjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang samar, hanyut dan tidak berujung. [sumber : sebuah cerpen karya Emha Ainun Najib]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar