Di penghujung senja ini, Salsa melangkahkan kaki menuju kos. Tempat istirahan serta sarang inspirasi. diambilnya air wudhu, kesejukan mulai membasahi wajah dan hatinya. Kemudian ditunaikan ibadah sebagai kebutuhan hamba kepada Rabbnya. Disela - sela dzikir dan doanya terlintas kejadian kemarin dan hari ini yang begitu membuat hatinya terluka. Ketika ada kritikan yang diberikan oleh sahabat dari teman satu kos Yudis tentang hubungan mereka.
"Kenapa Yudis betah menjalin hubungan dengan salsa?"
Memang sudah menjadi sifat Salsa yang pendiam dan acuh dengan orang asing. Mungkin yang ditangkap oleh sang pengritikpun hanya sifat yang itu, karena memang hanya sehari bahkan mungkin hanya hitungan jam saja mereka berkenalan. Ada segores luka di hati Salsa yang tertoreh karena kata - kata itu. Siapa dia berani menghujat hatiku sedemikian rupa, pikirnya. Salsa tak ingin berbohong pada hatinya kalau dia terluka. Hanya saja ia bingung mau mengungkapkan pada siapa, tetap saja hanya tersimpan dihati. Ia ingin melupakan kata - kata itu, namun tak mampu bahkan semakin menghujam di dalam hatinya. Apakah begitu pula yang dipikirkan Yudis??. Salsa berusaha tetap tenang dan menghibur hatinya, dia tak mau bersu'udzon lebih banyak, ikhlaskan semua biarkan Allah yang menyelesaikan.
Pagi yang cerah menyambutnya hari ini. Salsa ada kuliah jam 7.00 dan kelompoknya kebagian maju presentasi hari ini. Alhamdulillah lancar... Agenda selanjutnya adalah mengisi tutorial Adik - adik angkatan. Terkadang Salsa merasa risih juga dengan hatinya sendiri. Seorang aktivis LDK macam dirinya mengapa masih pacaran juga seperti tak mengenal ajaran Islam saja. Astaghfirullah. Sebelumnya dia sempatkan untuk melihat papan pengumuman penerimaan beasiswa. Ternyata namanya tidak ada. Seketika badanya terasa lemas, mengetahui beban yang difikirkan orangtuanya terutama ibunya tidak berkurang. Padahal rencananya uang beasiswa itu akan digunakan untuk membayar SPP semester berikutnya agar beban ibunya lebih ringan. Dengan berat hati dia memberi kabar kepada ibunya.
"Nyuwun ngapunten ibu, Salsa dereng saged angsal beasiswa"
balasan dari ibunya ;
"Yo gag po po, mungkin durung rejekine"
Salsa tahu pasti pikiran ibunya akan bertambah dengan mengetahui kabar ini, tapi dia bisa berbuat apa. Dia hanya berdoa semoga Allah memberi rizky dari jalan lain untuk keluarganya melanjutkan hidup dan untuknya melanjutkan kuliah. Setelah belajar bersama adik-adik angkatan Salsa mengerjakan tugas kuliahnya, sekalian mengisi waktu luang karena nanti jam 13.00 dia ada kuliah lagi.
Namun kosong ternyata kuliah pada jam tersebut diganti tugas mengunjungi Perpustakaan mencari referensi tentang Karya Ilmiah. Setelah itu Salsa mengarahkan motornya menuju kosan Yudis. Memang sejak kemarin Yudis sakit. Alhamdulillah sekarang sudah sehat. Hanya ngobrol biasa tak ada yang istimewa. Kemudian sahabatnya datang Yudis dan sahabatnya terlibat obrolan yang asyik sepertinya. Salsa menunggu sambil asyik dengan komputernya sendiri. Setelah sahabatnya pulang Salsa juga berkemas untuk pulang, karena matahari sudah semakin turun ingin bersembunyi dan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Namun Yudis melarang Salsa pulang karena masih ingin mengobrol kemudian Ari temen satu kosnya datang membawa majalah dan berlembar - lembar kertas yang entahlah aku ndak paham. Kemudian, Salsa tertarik dengan majalah itu dan bertanya pada Yudis bolehkah dipinjem, Salsa kaget dengan jawaban Yudis.
"Kabeh - Kabeh koq dipinjem!"
Sebuah tamparan keras sepertinya mendarat di pipi Salsa. Hati Salsa kaget, memang benar beberapa barang Yudis yang dia bawa belum dia kembalikan. Seketika dia terpikirkan kembali tentang kenyataan pahit dalam hidupnya dan kenyataan bahwa dia tidak bisa meringankan beban ibunya dengan tidak didapatinya beasiswa dari kampus tempat dia kuliah. Beban itu kini semakin berat ketika tahu Yudis beranggapan seperti itu pula.
Saat itu seakan - akan Salsa ingin menangis dan mengembalikan semua barang yang dia pinjam dari Yudis. Salsa semakin bertekad untuk segera pulang. Lagi - lagi dilarang oleh Yudis. Sudah jadi kebiasaan Salsa ketika dia pengen pulang dan dilarang pasti ujung-ujungnya Salsa ngambek dan Yudis juga ndak mau kalah. Yudis ndak mau ditinggal kalau keadaannya belum jelas, apalagi masih keruh seperti ini. Dia akan merengek seperti anak-anak yang ditinggal pergi oleh ibunya. Salsa menjadi tambah kesel dan ndak tega juga.
Akhirnya dia hanya bisa terduduk lemas, tak terasa airmatanya menetes membasahi pipinya. Perlawanannya untuk membendung airmatanya di depan Yudis sirna. Untung dia segera dapat menenangkan hatinya sehingga hanya beberapa tetes airmata yang keluar dari kedua matanya. Setelah kondisi agak tenang, Yudis bertanya kenapa Salsa menangis, Salsa hanya bisa menjawab tidak kenapa - kenapa dan terdiam. Kemudian Yudis minta maaf dia hanya masih labil, masih ingin ditemani Salsa. Kemudian Ari menawarkan pengen makan apa sama Yudis, sepertinya dia menyindir Salsa karena mungkin perhatian Salsa kurang untuk Yudis. Tapi Salsa tahu bahwa Yudis mengetahui alasan mengapa dia melakukan itu, Salsa berharap ia benar.
Kemudian akhirnya Salsa diperbolehkan Yudis pulang setelah keduanya merasa tenang dan masalahnya selesai. Tapi Yudis bilang kalo sampai di kos Salsa tidak boleh menangis. Salsa mengiyakan perkataan Yudis itu tanpa tahu apakah dia mampu memendam bebannya itu sendiri.
Ya kejadian sepanjang kemarin sampai sore ini mungkin diberikan Allah sebagai alat muhasabah Salsa atas dirinya. Salsa berniat akan segera mengembalikan barang - barang milik Yudis, tentu dengan cara yang baik dan ahsan. Terbesit dalam benaknya.. kalau masalah seperti itu saja si Yudis bisa berkata demikian. Apa yang akan terjadi nanti kedepannya hanya Allah yang tahu. Biarlah misteri ini terungkap sejalannya waktu.
Ku temukan dalam pencarian
Cinta sejati untuk hidupku
Kurang lebih yang seperti dia
Ku harap dalam cintaku
Ku tak mau meyakinkannya
Pasti bahagia bila denganku
Biar dia rasakan sendiri
Betapa gilanya cintaku
Memang sudah menjadi sifat Salsa yang pendiam dan acuh dengan orang asing. Mungkin yang ditangkap oleh sang pengritikpun hanya sifat yang itu, karena memang hanya sehari bahkan mungkin hanya hitungan jam saja mereka berkenalan. Ada segores luka di hati Salsa yang tertoreh karena kata - kata itu. Siapa dia berani menghujat hatiku sedemikian rupa, pikirnya. Salsa tak ingin berbohong pada hatinya kalau dia terluka. Hanya saja ia bingung mau mengungkapkan pada siapa, tetap saja hanya tersimpan dihati. Ia ingin melupakan kata - kata itu, namun tak mampu bahkan semakin menghujam di dalam hatinya. Apakah begitu pula yang dipikirkan Yudis??. Salsa berusaha tetap tenang dan menghibur hatinya, dia tak mau bersu'udzon lebih banyak, ikhlaskan semua biarkan Allah yang menyelesaikan.
Pagi yang cerah menyambutnya hari ini. Salsa ada kuliah jam 7.00 dan kelompoknya kebagian maju presentasi hari ini. Alhamdulillah lancar... Agenda selanjutnya adalah mengisi tutorial Adik - adik angkatan. Terkadang Salsa merasa risih juga dengan hatinya sendiri. Seorang aktivis LDK macam dirinya mengapa masih pacaran juga seperti tak mengenal ajaran Islam saja. Astaghfirullah. Sebelumnya dia sempatkan untuk melihat papan pengumuman penerimaan beasiswa. Ternyata namanya tidak ada. Seketika badanya terasa lemas, mengetahui beban yang difikirkan orangtuanya terutama ibunya tidak berkurang. Padahal rencananya uang beasiswa itu akan digunakan untuk membayar SPP semester berikutnya agar beban ibunya lebih ringan. Dengan berat hati dia memberi kabar kepada ibunya.
"Nyuwun ngapunten ibu, Salsa dereng saged angsal beasiswa"
balasan dari ibunya ;
"Yo gag po po, mungkin durung rejekine"
Salsa tahu pasti pikiran ibunya akan bertambah dengan mengetahui kabar ini, tapi dia bisa berbuat apa. Dia hanya berdoa semoga Allah memberi rizky dari jalan lain untuk keluarganya melanjutkan hidup dan untuknya melanjutkan kuliah. Setelah belajar bersama adik-adik angkatan Salsa mengerjakan tugas kuliahnya, sekalian mengisi waktu luang karena nanti jam 13.00 dia ada kuliah lagi.
Namun kosong ternyata kuliah pada jam tersebut diganti tugas mengunjungi Perpustakaan mencari referensi tentang Karya Ilmiah. Setelah itu Salsa mengarahkan motornya menuju kosan Yudis. Memang sejak kemarin Yudis sakit. Alhamdulillah sekarang sudah sehat. Hanya ngobrol biasa tak ada yang istimewa. Kemudian sahabatnya datang Yudis dan sahabatnya terlibat obrolan yang asyik sepertinya. Salsa menunggu sambil asyik dengan komputernya sendiri. Setelah sahabatnya pulang Salsa juga berkemas untuk pulang, karena matahari sudah semakin turun ingin bersembunyi dan waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Namun Yudis melarang Salsa pulang karena masih ingin mengobrol kemudian Ari temen satu kosnya datang membawa majalah dan berlembar - lembar kertas yang entahlah aku ndak paham. Kemudian, Salsa tertarik dengan majalah itu dan bertanya pada Yudis bolehkah dipinjem, Salsa kaget dengan jawaban Yudis.
"Kabeh - Kabeh koq dipinjem!"
Sebuah tamparan keras sepertinya mendarat di pipi Salsa. Hati Salsa kaget, memang benar beberapa barang Yudis yang dia bawa belum dia kembalikan. Seketika dia terpikirkan kembali tentang kenyataan pahit dalam hidupnya dan kenyataan bahwa dia tidak bisa meringankan beban ibunya dengan tidak didapatinya beasiswa dari kampus tempat dia kuliah. Beban itu kini semakin berat ketika tahu Yudis beranggapan seperti itu pula.
Saat itu seakan - akan Salsa ingin menangis dan mengembalikan semua barang yang dia pinjam dari Yudis. Salsa semakin bertekad untuk segera pulang. Lagi - lagi dilarang oleh Yudis. Sudah jadi kebiasaan Salsa ketika dia pengen pulang dan dilarang pasti ujung-ujungnya Salsa ngambek dan Yudis juga ndak mau kalah. Yudis ndak mau ditinggal kalau keadaannya belum jelas, apalagi masih keruh seperti ini. Dia akan merengek seperti anak-anak yang ditinggal pergi oleh ibunya. Salsa menjadi tambah kesel dan ndak tega juga.
Akhirnya dia hanya bisa terduduk lemas, tak terasa airmatanya menetes membasahi pipinya. Perlawanannya untuk membendung airmatanya di depan Yudis sirna. Untung dia segera dapat menenangkan hatinya sehingga hanya beberapa tetes airmata yang keluar dari kedua matanya. Setelah kondisi agak tenang, Yudis bertanya kenapa Salsa menangis, Salsa hanya bisa menjawab tidak kenapa - kenapa dan terdiam. Kemudian Yudis minta maaf dia hanya masih labil, masih ingin ditemani Salsa. Kemudian Ari menawarkan pengen makan apa sama Yudis, sepertinya dia menyindir Salsa karena mungkin perhatian Salsa kurang untuk Yudis. Tapi Salsa tahu bahwa Yudis mengetahui alasan mengapa dia melakukan itu, Salsa berharap ia benar.
Kemudian akhirnya Salsa diperbolehkan Yudis pulang setelah keduanya merasa tenang dan masalahnya selesai. Tapi Yudis bilang kalo sampai di kos Salsa tidak boleh menangis. Salsa mengiyakan perkataan Yudis itu tanpa tahu apakah dia mampu memendam bebannya itu sendiri.
Ya kejadian sepanjang kemarin sampai sore ini mungkin diberikan Allah sebagai alat muhasabah Salsa atas dirinya. Salsa berniat akan segera mengembalikan barang - barang milik Yudis, tentu dengan cara yang baik dan ahsan. Terbesit dalam benaknya.. kalau masalah seperti itu saja si Yudis bisa berkata demikian. Apa yang akan terjadi nanti kedepannya hanya Allah yang tahu. Biarlah misteri ini terungkap sejalannya waktu.
Ku temukan dalam pencarian
Cinta sejati untuk hidupku
Kurang lebih yang seperti dia
Ku harap dalam cintaku
Ku tak mau meyakinkannya
Pasti bahagia bila denganku
Biar dia rasakan sendiri
Betapa gilanya cintaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar