"Jika aku tak bisa memilikimu, maka orang lainpun tidak??"
"Siapa kamu?, Kenapa baru sekarang kau anggap aku berharga, kenapa baru sekarang kau cari aku yang dulu kau sia-siakan?" Tanya Putri.
"Jika bukan luka dan air mata yang kau berikan, kata - kata itupun tak akan sesakit ini. Ketika aku mampu bangun dalam kehancurah hati dan hidupku. Ketika aku mampu mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Kenapa kau mesti datang dan ingin merampasnya lagi. Alih - alih ingin membahagiakan aku. Kenapa kau setega itu. Setelah kau tinggalkan aku untuk cewek lain dan sekarang cewek itu ninggalin kamu, kamu ingin kembali padaku, kenapa kau tega Her?" bentak Putri dalam isak tangisnya.
"Memaafkanmu sudah aku lakukan. Namun, kembali padamu tak ada dalam pilihan hidupku sekarang." Tegasnya.
"Kau yang membuatku seperti ini, aku kecewa dengan sikapmu, aku hanya ingin berteman" Heru membela diri.
"Begini caramu berteman?, sikap yang mana yang kau bicarakan?" tanya putri.
"Kenapa kau begitu sombong, tak memperdulikan aku?"
"Apa maksudmu?, apa aku harus menanyakan kabarmu setiap waktu begitu?" tegas Putri dengan nada tinggi. Sebenarnya ia juga tak ingin bersikap demikian. Namun sikap Heru yang membuatnya jadi begitu marah.
Heru terdiam.
"Kamu harus tahu posisimu sekarang dalam hidup aku, kau bukan prioritas lagi dalam hidup aku, tolong pahami keadaanku dan dan hargai seseorang yang aku pilih sebagai penggantimu" kata putri sedikir tenang.
"Aku tahu aku anak orang miskin, sehingga kau memilih dia."
"Begitu picik penilaianmu terhadapku, tapi terserah aku tak perduli pendapatmu, aku sendiri yakin kau mengejarku bukan karena ketulusan, karena aku bisa merasakan!" kata - kata putri membuat Heru terdiam.
"Kau menantangku?, baik tunggu saja nanti bulan September." ancam Heru.
"Kenapa harus menunggu bulan September?, kenapa tidak sekarang?, Kenapa kau lakukan ini kepadaku Her, kenapa kau begitu tega?" tanya putri, hampir saja dia menyerah. Lalu tersadar bahwa dia tak sendiri ada Allah dan seseorang yang menungguinya yang memperhatikan setiap detik perbincangan kami.
Seseorang yang dengan senyumannya memperkuat alasan kenapa dia tak mau kembali lagi pada Heru. Seseorang dengan hati begitu tulus.
"Aku akan melamarmu, kau tahu orang tua ku sangat marah karena aku lari darimu" bentak Heru.
"Apakah itu salahku?" aku tak kalah keras, aku tak mau menyerah padanya.
"Mereka mengancam, jika aku tidak membawamu pulang aku tidak diijinkan bertemu mereka" Heru tertunduk lemas.
"Dan aku juga yang harus bertanggung jawab atas kesalahan dan keegoisanmu itu?, Salahkukah jika kau meninggalkanku dan sekarang tak bahagia?, Salahkukan jika kau merasa tertekan karena merasa bersalah telah menyia - nyiakan aku?, OK kalau karena alasan itu kau ingin kembali padaku, aku sendiri yang akan menemui orang tuamu, dan menjelaskan keadaan hidupku, bahwa aku tak butuh kamu sebagai penjagaku. dan cukup jangan lagi campuri hidupku. Aku yakin mereka akan lebih bijak mengartikan semua ini, daripada haru menjelaskannya kepadamu." Jawab Putri dan langsung beranjak pergi dari Heru tanpa perduli kenekatan apa yang akan dia lakukan. Putri sudah cukup merasakan kehancuran. Dia hanya ingin mempertahankan apa yang dia miliki. AKU BERHAK BAHAGIA!!! batinnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar